KALIMANTAN TENGAH – PT Korintiga Hutani, salah satu perusahaan terbesar di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang mengelola Hutan Tanaman Industri (HTI), dari mulai pembibitan, penanaman, perawatan dan pemanenan, berbagai jenis kayu.
PT Korintiga Hutani mulai membuka lahan HTI pada tahun 1998 (setelah menerima izin bisnis perkebunan hutan IUPHHK-HTI dengan luas 97.850 hektar), adapun bibit pohon yang ditanam yakni jenis Akasia dan Eukaliptus , serta jenis pohon Waru.
Seiring dengan sang waktu, beberapa tahun kemudian PT Korintiga Hutani dengan penanaman aktif bibit pohon Akasia dan Eukaliptus serta Waru telah tertanam dengan subur mencapai lebih dari 60.088,7 hektar, didaratan datar dan berbukit.
Pada tahun 2003, saat penulis meliput kunjungan mantan Wakil Gubernur Kalteng Almarhum Nahson Taway ke PT Korintiga Hutani, langsung diterima oleh Mr. Riyu. Kemudian oleh Mr. Riyu Wagub Nahson Taway dan rombongan, diajak naik ke puncak bukit.
“Waduh indahnya bukan main, ternyata hamparan pohon Akasia dan Eukaliptus yang terbilang masih muda dilihat dari puncak bukti, bak hamparan permadani dikaki langit, luar biasa. Dan puluhan bahkan ratusan ribu bibit pohon Akasia dan Eikaliptus , kalau sudah besar bisa bermanfaat untuk menahan banjir dan longsor,“ ujar Nahson Taway.
“Apakah kedua Bukit sudah diberi nama atau belum. Kalau belum akan diberi nama Bukit Nahson Tawai 1 dan Bukit Nahson Tawai 2,“ sambungnya.
Wagub Almarhum Nahson Taway, yang murah senyum dan tawa, sempat mengatakan bahwa pohon Akasia dan Eukaliptus, kalau sudah besar dengan sendirinya akan membantu dalam pelestarian lingkungan dan membantu mengurangi risiko banjir dan longsor di Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Walhasil, pengamatan penulis PT Korintiga Hutani telah lama menunjukkan komitmennya dalam pelestarian lingkungan dan membantu mengurangi risiko bencana alam di wilayah sekitar perkebunannya.
Menyusul tahun 2010, penulis juga meliput kunjungan kerja Menhut Zulkifli Hasan ke PT Korintiga Hutani, pada Jumat 9 Juli 2010. Kunjungan Menhut didampingi Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Hadi Daryanto, Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Ho-Young, Utusan Khusus Presiden Perancis untuk Perubahan Iklim Jacques Le Guenyang juga anggota Parlemen Perancis, dan Wakil Gubernur Kalteng Ahmad Diran. Mereka berkeliling meninjau sebagian kecil dari 97.850 hektar areal HTI Korintiga Hutani di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Lamandau.
Mehut saat dikonfirmasi penulis mengatakan, tujuan berkunjung ke PT Korintiga Hutani untuk mendorong investor yang telah memegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan tanaman industri untuk segera merealisasikan penanaman.
“Indonesia akan mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri kehutanan dari hutan tanaman apabila mampu menanam 10 juta hektar sampai tahun 2012,“ jawab Menhut.
Dengan terjadinya musibah banjir bandang dan longsor, yang memporakporandankan 3 Provinsi, yakni Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Aceh, yang menjadi perhatian rakyat Indonesia dengan banyaknya Kayu Gelondongan akibat pembalakan liar, yang menjadi salah satu penyebab musibah tersebut.
Insya Allah, khususnya untuk Warga Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kobar, pada beberapa tahun lalu Arut Utara banjir diduga akibat ada HTI. Padahal justru dengan adanya HTI, lahan sekitar HTI semakini kokoh dan kuat, karena HTI telah membantu mengurangi banjir dan longsor. Alasannya, pohon Akasia dan Eiukaliptus memiliki akar yang kuat dan sistem perakaran yang kompleks, yang mampu menahan erosi tanah dan menyerap air hujan dengan cepat. Hal ini membantu mengurangi risiko longsor dan banjir.
HTI juag berperan sebagai penahan alami untuk air hujan, yang dapat mengurangi laju aliran air dan mencegah banjir. Selain itu, hutan juga berfungsi sebagai filter alami yang mampu menghilangkan zat-zat pencemar dalam air, sehingga menjaga kualitas air yang dihasilkan.
PT Korintiga Hutani sendiri telah mengelola hutan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, dengan memprioritaskan faktor-faktor penting seperti produksi yang berkelanjutan, aspek sosio-ekonomi masyarakat lokal, dan kelestarian lingkungan. Perusahaan ini juga telah memperoleh sertifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan dan mendukung sistem sertifikasi internasional seperti PEFC. (*)
Sumber: beritasampit.com