Dengan melibatkan anak-anak sekolah dasar dari empat desa di Kabupaten Lamandau—yaitu Desa Panahan, Desa Pandau, Desa Topalan, dan Desa Lubuk Hiju—Kelas Konservasi dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Melalui pendekatan ini, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang konservasi, tetapi juga belajar melalui permainan, cerita, film, dan berbagai aktivitas kreatif.
Sebanyak 100 anak dari desa tersebut turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan edukatif yang dirancang untuk memperkenalkan pentingnya menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayati sejak usia dini ini.
“Kelas Konservasi merupakan salah satu cara perusahaan untuk memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap 10 Agustus. Kegiatan ini sekaligus menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan sekaligus menanamkan nilai-nilai konservasi kepada generasi muda,” ujar Dinie Vevironica, Supervisor Divisi Lingkungan PT KTH.
Kegiatan Kelas Konservasi diawali dengan ice breaking berupa games untuk membangun antusiasme dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kemudian dilanjutkan dengan pretest dan posttest untuk mengetahui pemahaman anak-anak sebelum dan setelah mengikuti Kelas Konservasi. Evaluasi ini menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana pesan-pesan konservasi yang disampaikan dapat dipahami oleh para peserta.
Salah satu kegiatan yang menarik dari kelas ini adalah sesi pemutaran film “Orangutan Utan Borneo”. Melalui film tersebut, peserta diajak mengenal keberadaan orangutan, peran dan fungsinya di dalam ekosistem hutan, serta pentingnya melindungi orangutan sebagai salah satu satwa yang dilindungi oleh pemerintah.


Kegiatan lalu dilanjutkan dengan sesi telling story menggunakan buku cerita berjudul “Perubahan Iklim”. Tidak hanya melalui materi, kreativitas anak-anak juga diasah melalui kegiatan kolase daun serta menggambar dan mewarnai kipas. Aktivitas ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menghasilkan karya edukatif yang berkaitan dengan lingkungan.
Sebagai penutup, anak-anak mengikuti kegiatan “Pohon Harapan” di mana setiap peserta menuliskan pesan, komitmen, atau harapan mereka untuk kelestarian satwa liar pada kertas berbentuk daun, kemudian menggantungkannya pada miniatur pohon. Sederhana namun penuh makna, kegiatan ini menjadi simbol harapan bahwa kepedulian terhadap alam dapat tumbuh bersama generasi muda.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya tanggung jawab hari ini, tetapi juga investasi untuk masa depan. Dari mengenal, tumbuh kepedulian. Dari kepedulian, lahir tindakan untuk menjaga dan melestarikan alam. (Humas)